Sunday, 7 March 2010


FIDA AMATULLAH Si Sulung

Sulungku bernama Fida Amatullah. Lahir di RS Jayakarta pada hari Sabtu, 3 Mei 1997. Saat ini Fida sudah duduk di kelas 7 SMPIT ASSYIFA Boarding School di Subang.

Kadang aku rindu pada sulungku, walaupun kalo ada di rumah bawaannya mulut ini menjadi lebih bawel. ngatur ini... ngatur itu... nyuruh ini... nyuruh itu. Tapi itu semua untuk melatih kemandiriannya loh...

Hobi-nya menurun dari aku : membaca dan membuat tulisan. juga ngotak-ngatik komputer. Smoga Allah senantiasa membimbingnya, amien...



Saturday, 6 March 2010



ZHAFIRAH ZARA AMATULLAH

Sempat kuragu saat kau mulai tumbuh dalam rahimku. Karena kehamilan ini termasuk beresiko. Tiga kali sudah aku melahirkan lewat operasi. Kali ini... tak terduga Allah menitipkanmu kembali dalam rahimku. Bismillah... Saat amanah itu Allah berikan padaku, aku yakin ini adalah yang rencana terbaik yang Allah berikan dalam hidupku. Minggu demi minggu. Bulan demi bulan kulalui dengan penuh kehati-hatian dan do'a yang penuh. Terbayang beberapa rencana yang sudah terprogram dalam hidup kami, aku dan sayap hidupku, akan sedikit berubah. Ya Allah... tanamkan cinta untuk manusia kecil yang kini ada dalam rahimku. Alhamdulillah... 5 Februari 2010, kau lahir lewat operasi kembali. Sakit yang luar biasa menyerang ulu hatiku terobati saat mendengar tangismu memecah keheningan ruang operasi. Seorang bidadari mungil, berambut tebal, bermata bundar, berkulit kemerahan, disentuhkan ke bibirku yang tergeletak tak berdaya saat itu. Tak terasa butiran air mata ini jatuh di pipi, deras... teramat deras. Subhanallah... Cinta itu tumbuh subur saat itu juga. Ya Rahman, kan kujaga titipanMU yang cantik ini dengan sebaik-baik penjagaan. Jadikan kami, team yang kompak dalam meniti jalan menuju ridhaMU. Selamat datang bidadari kecilku... Kunamai engkau dengan sebaik-baik nama. Ayah memberikan hak penuh pada ibu untuk memberimu sebuah nama. Tidak seperti nama kakak-kakakmu. Ibu merasa tersanjung... Akhirnya, terbersitlah sebuah nama indah untukmu : Zhafirah Zara Amatullah. Keberuntungan seorang putri dari seorang wanita hamba Allah, begitulah makna namamu, nak... Tumbuhlah besar anakku. Jadilah cahaya mata dan hati setiap orang yang memandangmu. Jadilah tauladan hidup orang-orang di sekelilingmu. Agar kami, ayah dan ibumu, akan bangga telah melahirkanmu ke dunia ini...

"Tuliskan rencana kita dengan sebuah pensil tapi berikan penghapusnya pada Tuhan. Izinkan Dia menghapus bagian-bagian yang salah dan menggantikan dengan rencanaNYA yang indah dalam hidup kita." (dikutip dari Dian Syarief)

Monday, 1 March 2010

Mimpi itu Gratis

Mtu GRATIS...


 MIMPI  itu GRATIS...

"Apa impian kamu yang kamu anggap sudah tercapai sampai hari ini tien?" Pertanyaan 'sayap hidup'ku yang tiba-tiba itu membuatku agak tercenung, bingung. "Hm... apa ya?"
"Kalo aku, Alhamdulillah... rasanya beberapa bahkan hampir semua mimpi yang pernah aku rajut dalam benak dari selagi aku muda, sudah tercapai. Menikah, punya 4 orang anak, punya rumah di daerah yang kuinginkan, punya mobil, insya Allah naik haji, ya... hampir semua..."
Aku masih terdiam. Hebat betul 'sayap hidupku' ini, batinku. Rencana hidupnya memang bermula dari mimpi-mimpi... Sedangkan aku? Kubiarkan hidup mengalir bagaikan air. Ikuti saja ke mana alirannya akan menuju. Yang penting aku bisa menghadapi batu, karang, sampah atau kotoran yang kuanggap sebagai cobaan hidup, bersama aliran itu.
"Bahkan kini aku punya mimpi untuk 15 atau 20 tahun yang akan datang..." Kembali 'sayap hidupku' berkata. Matanya berbinar cerah menatapku yang masih terbengong, bingung.
"Apa?" Balasku takjub.
"Hm... kamu pasti tertawa..."
"Lho, ngapain tertawa. Bukankah kita sudah sepakat, bahwa: 'apa sih yang tidak mungkin kalo kita meminta pada Allah? Apapun permintaan kita, urusan dunia kek, urusan akhirat kek..." Aku sedikit cemberut. Tertawa itu kan melecehkan... ya ga mungkinlah, wong namanya juga bercerita tentang impian, apa salahnya...
"Hm... aku punya mimpi menjadi bupati."
Ups! Eit... bener kan! Hik..hik... hik... akhirnya aku tak tahan untuk tidak tertawa.
"Tuh, kan..."
"Eh, sory, bukan begitu. Hanya mimpi yang aneh kurasa... Kok bisa mimpi jadi bupati. Jauh dari basic aja gitu. Kamu sekarang menekuni dunia perdagangan. Cenderung menjauh dari dunia perpolitikan karena sedang dikecewakan. Kok bisa..."
"Eit... ingat: tak ada yang tak mungkin kalo kita memintanya pada Allah... Lagi pula, aku sih hanya ingin membuktikan bahwa sebenarnya aku juga bisa kok untuk berprestasi. Aku prihatin melihat kondisi kepemimpinan sekarang ini. Aku ingin bisa menjadi Umar bin Abdul Aziz, atau Said bin Amir al-Jumhi, yang bisa meredam ego keduniawiannya saat mereka menjadi pemimpin. Bupati kita sekarang aja, 15 tahun yang lalu tuh bukan siapa-siapa..."
"Ya deh... amien... Kalo aku sih ga muluk-muluk. Aku punya impian jadi orang kaya. Dengan kekayaanku itu aku bisa bikin perpustakaan dan sekolah untuk anak-anak yatim-piatu dan du'afa. Aku ingin... sangat ingin menjadi sahabat mereka. Sahabat terdekat mereka. Sungguh... Aku teramat ingin.... " Kalimatku mulai terbata pada akhirnya. Ya, aku selalu terbawa perasaan saat membayangkan impianku itu.
"Bagus, sebuah impian yang bagus. Yakinlah, tak ada yang tak mungkin bila kita memintanya pada Allah!"
"Kalo begitu, ade ingin punya mimpi jadi mentri pendidikan deh... Biar sekolah ade gratis!" Celetuk buah hatiku, si nomor dua Azzam.
"Oh... ga apa-apa... siapa pun boleh bermimpi. Mimpi itu gratis kok..."
Ya, ayo kita rajut mimpi-mimpi kita. Andai mimpi itu sudah tercapai, buatlah kembali mimpi yang baru!

Sunday, 31 May 2009

"SYUKUR"

Ahad, 31 Mei 2009



Pagi yang cerah,

Seperti biasa kuawali hari dengan "basmallah".

Kukayuh motor tua-ku dengan sejuta asa,

Bertemu murid-murid kecilku yang lucu dan penuh semangat

Terbayang dalam pelupuk mata

Keceriaan dan senyum sapa hangat mereka yang bersahutan

"Bu titin datang...bu titin datang...

Subhanallah... tak ada kebahagiaan yang bisa terlukiskan

Semudah Allah melukiskannya lewat sesuatu yang teramat sangat sederhana:

Anak-anak yang polos itu...

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang hendak engkau dustakan?!



Sepanjang jalan,

Tak henti bibir dan hati ini bertasbih

Mata dan telinga ini membaca

Tertangkap mataku pada seorang bapak tua

dengan tumor di mata yang besarnya menutupi hampir separuh wajah

Menarik gerobak yang sama tuanya

Bibirnya pelan berdesah : Abu gosok... abu gosok...

Ya Rabb... hati ini berdesir iba

Tertangkap mataku pada seorang lelaki paruh baya

Mengayuh sepeda tua dengan hanya satu tangan

Separuh tangan yang lain entah kemana...

Berat membawa beban di belakang sepedanya,

Ya Rabb... hati ini berdesir iba

Tertangkap mataku kembali pada seorang nenek tua

Tertatih meminta-minta,

Wajah memelas penuh harap

Hatiku berdesir kembali...

Ya Rabb...akan seperti apa aku suatu hari nanti,

Akan seperti mereka kah...

Kupandangi diri dalam spion...

Aku masih muda... masih ada waktu untuk beramal dan berkarya

Maka: Nikmat Tuhanmu manakah yang hendak engkau dustakan...



Ya Illahi... semoga aku bisa menjadi seorang yang pandai mensyukuri

Segala nikmat yang tlah Engkau berikan

Dan dapat mengisi nikmat itu sesuai dengan tuntunan MU

Wednesday, 22 April 2009

Memory of Rafting on Citarik

Sabtu, 18 April 2009

Kebersamaan itu memang indah. Apalagi jika ditambahkan dengan kegiatan yang menantang dan seru. Seperti yang aku dan teman2 lakukan di sungai Citarik. Rafting dan arung jeram yang sungguh luar biasa heboh...
Thanks God... I can do what I want to and dream several years ago...

Saturday, 28 February 2009

Wajah calon Legislatif kita

Ahad, 1 Maret 2009

Sudah hampir tiga bulan terakhir ada hiburan tersendiri saat aku berkendaraan. Karena hampir di sepanjang tepi jalan, baik jalan raya atau gang kecil, kudapati ratusan poster "calonbintang" yang bertengger menghiasi batang pohon atau tiang yang berdiri di situ. Ada yang tersenyum santun, ada yang senyum menggoda, ada yang bergaya mirip aktor/artis/ foto model, bahkan ada yang sengaja mengajak orang penting dalam poster fotonya tersebut. Ck...ck...ck... hebat ya kawan!

Ada 2 persfektif yang ingin kubagi dengan kalian tentang fenomena yang terjadi tiap lima tahunan ini. Pertama persfektif positip, dan kedua, tentu saja persfektif negatif.

positifnya, pemilih jadi lebih tahu seperti apa sih wajah calon wakilnya di DPR nanti, ya minimal ganteng atau cantik nya lah...Walaupun foto itu kan kadang bisa direkayasa dikit lah, biar kelihatan agak beda dari biasa...
Nilai Positif lainnya, ini bagi para caleg loh ya..., kalau nanti tidak terpilih dalam pemilu, siapa tahu ada agen iklan atau bintang film yang melihat dan kebetulan lagi nyari orang buat iklan atau filmnya, kan lumayan tuh... bisa balik modal...

Sisi negatifnya, jalanan jadi kotor... sumpek... banyak bendera yang ga karuan. Coba deh kita hitung, hampir setiap 1 langkah kaki, pasti ada poster mereka. Coba kalau kita kalkulasikan dengan nilai uang. Andai sebuah poster dinilai 100 ribu, kali 100 lembar tiap caleg= 10.000.000
dikali 100 orang caleg = 1000.000.000!!! Sebuah nilai yang lumayan besar, kawan... Andai uang itu kita bagi untuk orang yang tak mampu, atau membangun sebuah sekolah, wah... lebih asyik manfaatnya kurasa!

Wallahu 'alam deh... yang kuingin sih, pemilu tahun ini bisa MENGHASILKAN SESUATUYANG JAUUUUUH LEDIH BAIK. Walaupun aku sedikit pesimis menyaksikan realita yang ada. Tapi pepatah bijak bilang "Berharaplah...kala kau masih punya nafas dan doa, karena tanpa harapan, kita tak akan bisa HIDUP." Ya! Aku akan terus berharap dan yakin, karena memang, HARAPAN ITU MASIH ADA.

Monday, 23 February 2009

Bapak Polisi itu di suatu pagi...

Senin, 23 Februari 2009

Seperti biasa, pagi itu aku meluncur di jalan raya. Motor bututku agak terseok di antara ratusan kendaraan yang lain. Ditambah lalu lintas yang tidak seperti biasanya di sepanjang Kali Malang. Biasanya lancar dan menyenangkan. Tapi kali ini cukup padat dan macet. Mungkin karena semalam hujan turun cukup deras.

Seperti hari-hari sebelumnya juga... Pagi itu, aku melihat Pak Polisi itu. Tak kukenal siapa nama beliau. Karena tak kubaca label nama yang menempel di dada kirinya. Yang kutau, beliau sangat gesit dan tegas. Ramah pula. Sosoknya tegap, seperti postur tubuh para polisi pada umumnya. Warna kulitnya coklat tua, terbakar matahari kurasa. Sorot matanya tajam mengamati setiap pengemudi dan pengguna jalan tempatnya bertugas.

Yang menarik adalah, saat terjadi sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh seorang pengendara BMW pagi itu. Mobil mewah itu "ngotot" berbalik arah dalam lalu lintas yang padat itu. Pak polisi sudah mengarahkan untuk terus maju, karena berbalik arah akan menambah kekacauan lalu lintas. Entah karena egois dan merasa diri "kaya", sang pengendara tak mengacuhkan. Maka emosilah pak polisi ini. Digiringnya sang mobil (tentu saja bareng sopirnya) ke tepi jalan. Hampir semua mata pengguna jalan mengamati kejadian tersebut, termasuk aku yang berada persis di belakang BMW itu.
"Ah, paling juga peace... damai!" Batinku. Padahal aku tuh ikut kheki dengan kelakuan si "sombong" BMW tersebut. Hampir saja tebakanku jitu, saat kulihat si pengendara hanya melongokan kepala dan menyodorkan selembar 20.000 an. Tapi ups...! Tunggu dulu! Ada yang ajaib kurasa.
Ternyata, dengan sopan dan tegas, Pak Polisi itu berkata: "Maaf Pak. Saya sedang menjalankan tugas. Bapak telah melanggar peraturan, saya tidak butuh uang ini... saya sudah punya gaji dari negara. Silahkan berikan SIM atau STNK Bapak..."

Mak nyes.... rasanya adem banget mendengar kalimat itu. Aku terharu sekali. Tak terasa mataku berkaca-kaca. Subhanallah... semoga ini bukan mimpi. Andai setiap polisi seperti Bapak itu...
Karena bukan satu dua kali aku mendengar komentar miring tentang polisi. Sampai aku pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri, polisi yang menerima suap di jalan raya...