Wednesday, 7 March 2012

SANG INSPIRATOR


Refleksiku
(Dr. Dian Indihadi, M.Pd.  Dosen UPI Kampus Tasikmalaya)

Subhanallah dan Alhamdulillah- Aku Bangga Menjadi Guru- buah karya Titin Supriatin berhasil diterbitkan oleh Lentera Ilmu Cendikia tahun 2012.  Buah karya yang tidak main-main telah berhasil membawa pembaca bermain-main dengan beragam mainan dan permainan pendidikan.  Semua ragam mainan dan permainan pendidikan yang disampaikan dalam tulisan itu adalah hal-hal yang biasa kita temukan dalam keseharian, dipaparsajikan dengan tutur bahasa yang fulgar, jenaka dan kata-kata yang lateral, namun makna pesan pendidikan di dalamnya sangat luar biasa dan bersifat universal.

“Pokoknya seru banget!  Aku tidak peduli rasa penat letih setelah seharian direcoki murid-murid kecilku.  Aku tidak merasakan capenya digelayuti dua balitaku kanan kiri yang berebut duduk di pangkuan saat asik berkhayal di depan computer…  ada sebuah hal yang ingin kujadikan catatan penting bagi diriku sendiri, yaitu tentang pentingnya “waktu” dan “kreativitas” bagi seorang pendidik …” (Hal. 26)

Ternyata tidak main-main seorang sarjana pertanian yang berkiprah dalam dunia pendidikan.  Jika petani harus bergantung kepada “alam dan cuaca” tetapi seorang pendidik harus bergantung kepada “WAKTU DAN KREATIVITAS”

Dalam “DASTER” (Hal. 28-40), dibuktikan bahwa sejumlah fenomena yang menjadikan kita sebagai manusia lupa diri, nilai-nilai kemanusiaan dipermainkan, beragam permainan diperagakan dan akhir dari permainan itu melahirkan manusia baru.  Pendidikan dan peran ibu menjadi faktor penentu kelahiran manusia baru.
 
“BU TITIN, I LOVE YOU…!”  (Hal 84-89).  Saya menyetujui itu, bahkan tidak hanya 5 orang murid di jalanan.  Bahkan saya berpandangan “gaji” itu bagaikan “menstruasi” bagi setiap wanita.  Datang setiap bulan tapi tidak akan lebih dari 1 minggu. … Sungguh, ibu tak akan pernah menyesali keputusan ibu, untuk tetap memilih menjadi guru!...Hari kedelapan dan kesembilan, kami lebih sibuk lagi.  Lagi lagi aku mendapatkan kemudahan pada sesi ini.  Dosen yang “aneh/nyleneh”… Beliau tidak meminta kami membuat RPP… Hal baru yang sebenarnya sangat mendasar… tanpa harus bertele-tele (Hal.109)  Disadari ataupun tidak oleh para guru adalah profesi mulia yang tidak dapat dinilai dalam angka struk gaji, diukur dalam tulisan yang diadministrasikan atau di SK kan dalam pangkat maupun jabatan.

Guru adalah petani cinta, kasih sayang dalam tutur kata dan perbuatan.
Mang Daan, Belajar pada Irfan dan Selamat Jalan Pak Karta, bahkan cerita Pemulung dan Penjual sapu merupakan hipotesis bagi pendidikan karakter yang hari ini dijadikan isyu dalam RPP di sekolah.  Penulis berhasil menyajikan bukti nyata dalam tulisan tersebut.  Pasti keberhasilan mereka tersebut dari pendidikan yang tidak direpoti oleh silabus dan RPP yang ditulis tak pernah dibaca. 

Ya Rasulullah Aku Rindu Padamu,  Siapa Bilang Nggak Mungkin, Tuhan Aku MembutuhkanMU meskipun Mimpi itu Gratis.  Pasti itu, dengan tiga kata “Pasti Aku Bisa”  Kesadaran religu melebihi segalanya.  Virus Alamat Palsu bisa dikalahkan oleh Orang Tua Hebat.  Ya Bu titin lah yang berhasil bertani Cinta, Kasih sayang dalam tutur kata dan perbuatan. 

Sebuah kritik pedas perihal komersialisasi pendidikan melalui kinerja guru berhasil disampaikan.  Saat ini sosok Mang Daan sudah sangat jarang ditemukan yang ada hanya pada kenangan para guru dan sejarah waktu di masa lalu.
Tegar, Kita Adalah Sang Motivator, Aku Pasti Bisa kemudian Mimpi Itu Gratis merupakan realita hari ini yang ada dalam nafas dan denyut nadi para guru.  Bahkan “Punishment” dari guru kepada murid juga sering melampaui batas.  Ternyata Irfan- irfan yang lain masih banyak dijumpai di kelas.

Kondisi pendidikan hari ini digambarkan melalui Pak Karta yang seorang satpam penjaga gerbang sekolah, dipertegas oleh ibu kepala sekolah yang mengagntikan Pak Karta ketika beliau tidak bertugas di gerbang sekolah.  Padahal kondisi pendidikan yang sebenarnya seperti pengemis yang belajar berdoa dan do’a  penjual sapu pada anaknya.   “…Di sini Cuma numpang cari nafkah.  Ah, siapa bilang Gratis Neng? …Bapak ingin anak Bapak nggak Cuma pintar, tapi juga bisa ngaji.  Ibadahnya rajin, otaknya juga cerdas.  Biar kalau sudah dewasa nanti bisa jadi ustad.  Jadi orang yang berguna bagi masyarakatat.”  (Hal.58)
Akhirnya; “Saya ada di sini… Menjadi orang yang punya peran bagi masyarakat.  Maka tegakkan kepala dan banggalah denganprofesi anda.  Karena lewat tangan-tangan andalah dasar-dasar pendidikan manusia dibentuk dan dibina.  Tangan para guru sekolah Dasar!  (Hal 109).  Lanjutkan.  Perjuangan hari ini dengan menjadi guru.  Aku bangga!  

Hanya itu yang dapat saya sampaikan setelah diajak jalan-jalan menelusuri jalan panjang yang Bu Titin paparsajikan dalam buku itu.

      Don’t cry for tomorrow
     Give smile for yesterday
     Be the best one for life

Tanpa seijin penulis, saya mengutip ungkapan dalam buku itu Subhanallah dan Alhamdulillah untuk mengekspresikan perasaan setelah membaca buku itu.  Selain itu, saya menyatakan kecewa berat dan ketidak puasan yang “lebai” apabila bu Titin hanya menulis buku itu saja.  Sayang, pena emas bertinta ide, gagasan dan fenomena yang ada dalam schemata akan musnah dan sirna ditelan masa apabila bu Titin tidak merealisasikan ke dalam tulisan berikutnya.

Monday, 5 March 2012

S.O.M.A.L.I.A


KARENA KITA TAK TAHU?!
(Catatan kecil untuk hari peduli SOMALIA di SDIT Thariq Bin Ziyad PHP)

Pagi itu sekolahku kedatangan tamu.  Informasi kedatangan mereka sebenarnya sudah kami dapat sepekan sebelumnya.  Hanya karena kesibukanlah, aku tak terlalu menghiraukannya.  Walau demikian, aku sempat dua kali bertemu mereka, organisasi social berlabel KISS dan ACT.  KISS sendiri adalah sebuah singkatan dari Komite Indonesia untuk solidaritas Somalia.  Sementara ACT kepanjangan dari Aksi cepat Tanggap.  Mereka bergerak karena sebuah dorongan kuat untuk membantu sesama muslim yang tak lekang dirundung malang : Negara SOMALIA.

Beberapa versi histori kemalangan yang menimpa negeri bersuhu panas ini antara lain karena adanya “kekuatan besar asing” yang ingin menguasai hasil bumi mereka yang melimpah.  Hingga kekuatan asing ini menjajah dengan cara yang teramat lihai.  Tak ada wujud namun berasa ‘tamparannya’.  Hingga bisa menciptakan sebuah perang saudara yang tak pernah usai.  Karena kuingat betul, rasanya dari jaman aku masih batita, kisah tentang negeri SOMALIA ini tak pernah ada habisnya.  Kompleks.  Begitu istilahnya. 

 Selain perang saudara, Negara ini sering tertimpa bencana kelaparan dan kekeringan yang panjang.  Karena wilayahnya terletak di Afrika Tengah yang jarang kedatangan musim hujan.  Bahkan menurut cerita bisa sampai 6 tahun baru  mereka mendapatkan hujan.  Masya Allah ya!  Terbayang, bagaimana mereka bisa bertahan untuk hidup dengan usaha yang mereka upayakan sendiri.  Semisal bekerja, berladang, dan sebagainya.  Karena bagaimana mau bercocok tanam dengan kondisi air yang minim dan keamanan yang jauh dari damai.  Hingga akhirnya, mereka bertahan hidup dari belas kasihan dan bantuan yang diberikan dari Negara-negara yang peduli.
Padahal Negara ini menyimpan sumber daya alam yang berlimpah.  Uranium, bahan dasar untuk membuat nuklir.  Mudah ditebak alur cerita berikutnya, ada gula ada semut.  Negara adi daya yang bernama Amerika, dengan mengusung bendera pasukan perdamaian di Somalia masuk menjadi pengendali.  Kisah yang serupa dengan Negara-negara lain di berbagai penjuru dunia.  Termasuk Indonesia tentunya.  Punya summber daya yang melimpah, namun rakyatnya sendiri miskin dan mengetahui kekayaan negeri.  Kasian…. 

Namun bukan itu yang ingin aku bagi dalam tulisan ini.  Penyebab Kemalangan yang  menimpa saudara kita di Somalia bukanlah sebuah urusan mudah untuk diselesaikan.  Yang ada di depan mata adalah ribuan nyawa manusia yang kelanjutan hidupnya sangat teramat bergantung pada ‘kepedulian’ kita.  Sekali lagi KEPEDULIAN. 
Entah sudah terkubur di mana kata-kata emas itu dari bumi ini.  Jangankan untuk Negara orang, peduli untuk tetangga sekitar pun kita sudah hampir tak punya lagi.  Untuk itulah para relawan itu datang.  Mengetuk hati kita, berharap kata peduli masih ada tersimpan di lubuk hati .  Minimal untuk tahu bahwa di wilayah bumi yang lain, ada banyak manusia yang membutuhkan uluran tangan.  Andai pun kita tak punya harta untuk dibagi, kita masih bisa menyampaikan do’a atau menyampaikan khabar duka ini pada saudara atau sahabat kita tentang ini.  Siapa tahu ada yang terketuk hatinya untuk berbagi.

Aku jadi teringat perjalanan jiarahku ke baitullah setahun yang lalu.  Di sana banyak kutemui para perempuan berkerudung, berkulit gelap, menggendong para bayi, menadahkan tangan meminta real dari para jamaah haji.  Bahkan banyak yang cacad (atau cacat palsu) ikut memasang tampang memelas pada setiap jamaah yang lewat.  Aku sendiri hampir tak pernah memberi mereka uang, karena aku  teringat para pengemis di Indonesia yang mengemis karena profesi.  Bukan karena sebuah kondisi yang membuat mereka terpaksa melakukannya.  Mereka masih kuat, normal dan sebenarnya mampu untuk mencari pekerjaan lain selalin meminta-minta.  Jadi porsi curigaku jauh lebih besar dibanding rasa iba.
Melihat poster dan film documenter tentang rakyat Somalia, serasa melihat para pengemis kulit hitam di Mekah dan Madinah.  Ada sesal yang diam-diam muncul ke permukaan.  Ah, jangan-jangan para pengemis itu adalah penduduk Somalia yang melarikan diri dari negaranya untuk mencari sesuap nasi dan perlindungan.  Jahat betul pradugaku bahwa para pengemis itu hanyalah pura-pura.  Pelit betul aku waktu itu.  Kalau benar ternyata mereka adalah rakyat Somalia… Gubrak!!!  Aku benar-benar tak tahu… 

Sesal kemudian ga ada manfaatnya.  Masih ada kesempatan untuk berbuat.  Lembar  brosur yang dibagikan relawan KISS dan ACT masih ada dalam ransel kok walaupun sudah lecek.  Nomor rekening berbagai bank tertera di sana.  Mengundang pintu syurga terbuka untukmu  lewat berinfak dan shadaqoh.  Kemalangan yang menimpa saudara muslim kita di sana adalah bagian dari takdir Allah untuk dunia.  Tinggal bagaimana kita menyikapi hal ini.  Masih adakah kata PEDULI yang tersimpan rapi di sudut hati kita.  Karena  kalau bukan kita yang peduli, SIAPA LAGI?

Sunday, 4 March 2012

WELCOME TO BE IUC CLUSTER2



Seorang teman mengajakku bergabung di sebuah wadah anak muda.  Bukan sebagai anggota tentu saja.  Dengan jumlah buntut 4 orang aku sudah pantas untuk membina remaja dan pemuda yang notabene seusia sulungku.  Insya Allah, begitu kata kesanggupanku.  Walau belum banyak pengalamanku di bidang pendidikan remaja dan pemuda, ya minimal aku dulu pernah mengalami jadi remaja juga.
Okeh, cerita berlanjut.  Jujur, sampai detik aku menghadiri acara perkenalan anggota dengan para instrukturnya (Salah seorangnya adalah aku), aku belum ‘ngeuh’ betul tulisan dan cara membaca nama wadah yang akan aku bina ini.  Hingga dengan rasa sedikit malu kudekati salah seorang pengurus dan berbisik di kupingnya, “Maaf Mbak, apa sih nama kegiatan acara ini?”  Tanganku ikut menunjuk pin yang dikenakan di dadanya.  “Oh, ini Be IUC, artinya Bekasi Islamic Youth Camp”Jawabnya.
Oh… Be IUC.  Manggut-manggut kepalaku tanda baru mengerti.  Keren ya,  batinku.  Dengan rasa takjub kupandangi satu persatu remaja putri dan putra yang wajahnya berseri tanda gembira melakukan kegiatan ini.  Kreatif ya, komentar keduaku.  Di usia mereka yang terbilang masih cimit-cimit, sudah berani melakukan suatu kegiatan positip mengasah kemampuan diri sesuai minat dan bakat.  Ada bidang menulis, fotografi, teater, futsal, nasyid dan IT (informatika teknologi).
PD banget deh, itu komentar ketigaku.  Apalagi saat aku melihat banyak di antara anggota dan pengurusnya adalah murid-muridku dulu.  Mereka yang dulunya, maaf, masih cengeng, ingusan, plonga-plongo, dengan rasa percaya diri yang tinggi berani berbicara dan mengkoordinir teman-temannya.  Apalagi ternyata di antara mereka sudah ada yang membuat sebuah kelompok nasyid yang cukup sering tampil di acara tertentu.  Saluuuuut dah!  5 Jempol buat kalian, Kak!
Menilik dari tampilan spanduk panggung acara, subhanallah… Tergambar di sudut kiri atas sebuah bola dunia biru kekuningan.  Gambar 10 pemuda berjajar rapi dengan tangan menggapai udara, seolah ingin meraih bintang, ada di bawahnya.  Tulisan di atas barisan pemuda terbaca seperti ini :  SHOW YOUR CREATIVITY  TO THE WORLD.  Wow… hebat ya!  Propokator banget kan kalimatnya… Bisa membuat dada bergetar dan mendidihkan darah muda mereka yang selalu ingin diperhatikan dan diakui keeksisannya.
Subhanallah… Alhamdulillah… Syukur padaMU ya Rabb.  Menciptakan generasi pilihan seperti mereka.  Aku yang pernah menjadi guru mereka pun ingin meledak rasanya. Saking bahagianya melihat mereka tumbuh menjadi remaja yang berfikiran dewasa dan kreatif.  Jika  dibandingkan dengan remaja lainnya yang menurut kabar yang kudengar dan kubaca, selalu saja ada berita negative tentang mereka.  Narkoba lah, tawuran massal lah, pergaulan bebas, dan lain sebagainya.  Bahkan ada yang mengatakan, remaja sekarang adalah generasi ALAY, yang selalu menjawab Tauk ya… Terserah deh… Ah, pokoknya ga punya kepribadian dan ga punya mimpi.  Anggota Be IUC ini benar-benar beda!  PD, punya mimpi dan cita-cita, dan of course gaul gituh loh!
Masih ada harapan ternyata.  Melihat antusiasme remaja di wadah ini aku jadi merasa muda lagi.  Mimpi-mimpi lawasku bertumbuhan lagi.  Aku ingin menjadi bagian orang-orang yang punya manfaat untuk mereka.  Aku ingin bisa membagi apa yang aku punya untuk mereka.  Aku ingin mencurahkan sebagian waktuku untuk menjadi sahabat mereka.  Aku ingin menjadi bagian dari sejarah dan bersaksi  bahwa masih banyak remaja yang punya cita-cita tinggi dan harapan besar, dan berani berkata AKU MAMPU MENJADI YANG TERBAIK UNTUK IBU DAN AYAHKU.  AKU BISA MENJADI GENERASI YANG TANGGUH UNTUK NEGERIKU.  AKU BISA  MENJADI TELADAN BAGI TEMAN-TEMANKU YANG LAIN.  PERCAYALAH… AKU BISA!
Anak-anakku… Teruslah berjuang dan menunjukkan jati diri kalian pada dunia.  Warnai cakrawala bumi dengan keindahan akhlak dan kreatifitas yang kau miliki.  Lukis dan buatlah mimpi-mimpi indahmu tentang masa depan.  Isi hari-harimu dengan kegiatan yang mendatangkan kagum penduduk bumi dan langit.  Mari kita bergandengan tangan,  membuat karya indah untuk mereka…Sungguh, ibu bangga memiliki kalian…

Friday, 2 March 2012

NGAJAR BLOG?  SAPA TAKUT ?!

Rasanya aneh harus mengajar sesuatu yang tidak pernah  kita lakukan.  Kadang-kadang kondisi memaksa kita harus menerima tugas itu pada akhirnya.  Dari pada di"SP" kan atasan?  Nah betul, dari pada dipecat bu...Begitu komentar Aziz.  Akhirnya, ya... go go go deh!

Sayangnya ternyata kunci lab komputer raib hari ini.  Entah dibawa siapa.  Terpaksa dengan kecepatan seadanya dan persiapan yang alakadarnya juga membuatku harus mengambil tindakan cepat. Membuka kelas ruang atas yang sudah dipasang layar trus minjem laptop temen yang bisa konek ke internet walau kelasnya ada di ujung kulon, hehehe...

Tidak mudah ternyata mengajarkan sesuatu hal yang sebetulnya bukan barang baru buat anak-anak usia kelas 6 SD.  Dibanding zamanku dulu yang ngetik aja kudu pake mesin ketik manual.  Sekarang anak-anak sudah jauuuuh lebih canggih dari gurunya.  Mereka sudah lebih ahli ngutak ngatik komputer atau netbook pribadi (UPS! gurunya padu bisa bengong... but aku ga termasuk loh... gini-gini aku masih bisa ngimbangin zaman, heheh... )

Dengan modal pengalaman belajar otodidak, aku pede aja ngajarin anak-anak.  Walaupun mungkin mereka ngetawain aku yang kadang ada salah-salah dikit saat menerangkan.  Tenang... guru masih punya satu tingkat keahlian lebih tinggi dibanding murid-muridnya, yaitu gomong, alias jago ngomong!  Tambahan keuntungan yang lain, aku memang sudah punya piaraan blog dari semenjak 4 atau 5 tahun yang lalu, so... masih inget lah yang namanya posting, dasbor, template, dan sebagainya.  Hingga murid-muridku dibuat bengong dan ber oh... oh...

Yang harus diinget juga, ngajar anak-anak level kelas 6, jangan lupa nyelipin yang namanya 'virus merah jambu'.  Serame apa pun kelas, kalo kita bisa bawa mereka ke area virus ini, dijamin manjur!  Kelas jadi lebih seru dan antusias.  So, bisa-bisanya kita mengatur gimana bisa ngajarin blog yang ga bosenin.  Trus, gimana cara mengcombine nya dunk?  Ya gampang... Suruh mereka buat blog yang isinya diary mereka aja.  Dari pada disimpen sendiri, kan mending bagi-bagi di dumay.  Siapa tahu kalo tulisan kita bagus, trus banyak yang baca, trus ada yang tertarik untuk menerbitkannya dalam sebuah buku, trus... kita dibayar, trus kita dapat uang deh, trus kita bisa kaya... hahaha... asyik kan?

Hahay, sorry berat dengan bahasan tadi.  Bukan maksud hati hubuddunya.  Uang melulu pikirannya.  Kapan da'wahnya?  Eits.. jangan salah ya!  Dua-duanya bisa kita dapat kok!  Tergantung niatnya juga kali ya... kalaupun kita ingin kaya, toh ga salah juga.  Malah wajib loh setiap muslim menjadi kaya dan terhormat.  Dengan kekayaan, kita bisa berkontribusi pada da'wah dan umat lebih banyak.  Karena jujur ya... di jaman sekarang ini, uang tuh sangat berpengaruh besar pada kehidupan.  Itulah makanya kenapa dalam dunia politik banyak politisi yang menggunakan senjata pamungkas dengan UANG.  Dengan uang, mereka bisa membeli jabatan dan pengaruh.  Nah, kalo yang punya uangnya orang-orang shaleh pasti lebih HEBAT lagi kan?  Mangkanya yuukk, jadi orang kaya.  Hayuuuuu....

Eits, udah adzan dhzuhur tuh.  Lagian, ngapain ngomongnya jadi nglantur begini ya?  Dari ngomongin BLOG jadi ke POLITIK.  Maklum lah ya, masyarakat di Kabupaten sana sedang panas-panasnya menghadapi pesta akbar PILKADA yang sudah tinggal menghitung hari.  Blog juga kalo bisa digunakan sebaik-baiknya, bisa dijadikan sarana menjaring suara di pilkada loh... Sayang ya... di Indonesia khususon Bekasi, belum banyak yang NGEBLOG.  Tidak seperti di Malaysia yang sudah menjadikan blog sebagai sarana komunikasi yang efektif.  Di Indonesia orang lebih demen yang namanya Fecbuk.  Sampe nenek-nenek pun sudah punya akun dan imel.  Haha... aku sendiri sudah bosan sama mainan yang satu itu.  Secara akhirnya aku back to hobi lawas, NGEBLOG.

UPS lagi!  Allah is calling... waktu untuk berdialog denganNYA sudah tiba.  Pamitan dulu yah... Salam!


Thursday, 1 March 2012

G.E.L.I.S.A.H.


Ada masa di mana kau merasa tersisih dan terasing.  Mungkin memang ada seseorang atau sekelompok mereka sengaja melakukannya padamu.  Atau mungkin sebetulnya perasaan 'terasing' itu kau ciptakan sendiri karena rasa sedih atau 'badmood' yang kadang kau sendiri tak mengerti dari mana muasalnya.  Tak masalah...

Terkadang, masa-masa sulit itu akan datang menemuimu.  Namun percayalah, sebenarnya moment itu sangat membantumu untuk beberapa hal dalam hidupmu.  Karena biasanya, saat di mana dirimu merasa terasing, kau akan memilih untuk menyendiri atau melakukan hal-hal pribadi lainnya, seperti berdoa, berkhalwat dengan Rabbmu dan merenung.  Menghisab serta introfeksi diri.

Pada saat seperti itu, akan muncul di ruang hatimu pergolakan hati: mengutuk, menganalisa, atau bahkan mencoba berprasangka baik dan memaafkan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengasingkanmu, maka tumbuh pula lah kedewasaan dan kebijakan di sudut relung hatimu.  Lalu kau pun akan berseru takjub; Subhanallah...langka terjadi sebuah jiwa menyerah pasrah pada Rabbnya, merunduk dan menyerahkan segala beban, dalam ketidakberdayaan diri.  Nikmat dan indahnya moment ini.  Thanks ya Rabb..

Kau tahu teman, ada banyak hal yang kadang tak kita mengerti, mengapa itu terjadi.  Jangan heran, karena bisa kau buktikan sendiri, acap, secara tak kita sadari, tangan-tangan Allah bekerja untuk merangkai takdir para makhlukNYA.  Sebagaimana halnya permulaan kehidupan, kematian, rejeki, jodoh dan lainnya.  Maka sabar dan syukur adalah 2 kata kunci yang paling ampuh untuk menghadapinya.

Andai takdir hidupmu tergurat penuh onak, duri dan duka, bersabarlah... karena sesungguhnya di ujung skenario hidupmu, bahkan sebelum hal itu berakhir, kau akan menyadari betapa indah Allah menciptakan kisah hidup seperti itu untukmu.  Dan satu hal harus kau syukuri : Gembira dan bahagialah!  Karena Allah memilihmu untuk menjalani hari-hari yang berat dalam hidup.  Karena Allah tahu: KAU INSAN YANG KUAT DAN TERPILIH!!!

Sunday, 11 December 2011

Just Wanna Share With U

Metamorfosa Cinta

oleh Titin Supriatin pada 9 Desember 2011 pukul 21:02
Cinta ternyata  mengenal juga istilah metamorfosa.  Kupikir, itu serupa pertumbuhan dan perkembangan kupu-kupu yang mengalami berbagai jenis perubahan ekstrim pada dirinya.  Dari sebutir telur, kemudian berubah menjadi seekor ulat jelek dan menjijikkan, lantas berganti rupa menjadi kepompong yang tidak jelas bentuknya, dan finally... dia berubah wujud menjadi seekor kupu-kupu cantik yang bersayap dan bisa terbang!

Mungkin begitu juga dengan perjalanan cinta seseorang.  Cinta, ada seseorang yang mengatakan, adalah juga makhluk ciptaan Allah.  Cinta bisa hidup, tumbuh dan berkembang di hati setiap insan.  Cinta adalah perasaan indah yang jika kau menemukannya akan kau dapati energi positif lebih dari biasanya.  Energi yang bisa kau sebar dan kau bagi dengan segenap rasa.  Energi positip itu bernama motivasi dan inspirasi.

Lalu apa hubungannya dengan metamorfosa?  Tentu saja itu hanyalah pemisalan.  Cinta memang hanyalah makhluk ciptaan Allah yang berwujud rasa.  Cinta adalah emosi jiwa serupa amarah, sedih, resah.  Cinta tersimpan rapi di tempat yang tersembunyi dalam dada.  Benda penyimpan cinta itu bernama hati.  Dan kau tahu kan... hati itu mudah dibolak-balik dan diombang-ambing.  Maka cinta pun akan mengikuti bagaimana suasana hati saat itu.

Cinta dapat tumbuh dan berkembang.  Tergantung bagaimana kau merawat dan menjaganya.  Bahkan cinta itu akan mengalami sebuah perubahan wujud, dari cinta karena ketertarikan ragawi di awalnya , berkembang menjadi cinta yang lebih dewasa seiring waktu.  Saling memberi semangat dan membangun kedewasaan itu sendiri.  Tak ada kebencian dan penyesalan, walau secara raga cinta itu tak bisa disatukan.  Maka tetap jagalah... Kau tak perlu memiliki seseorang yang kau cintai.  Justru perbanyaklah cintamu untuk sesiapa... sebarkan energi positip untuk mereka yang kau cinta.  Saling mendukung dan menyayangi...  Bukankah itu cara paling sederhana untuk mewujudkan dunia menjadi indah dan damai?


Teringat sebuah cuplikan syair lagu :
Cinta kan membawamu...
Kembali di sini...
Mendulang rindu
Membasuh pedih
Bawa serta dirimu...
Dirimu yang dulu
Mencintaiku, apa adanya...

Sunday, 12 June 2011

proyekku...

The Big News (cerbung tertunda…)

“Wow…” Saski berseru takjub. Mata bulatnya menatap penuh antusias Koran di tangannya. “Keren ya, kelompok band jalanan aja bisa berbuat kaya gini. Membantu para korban bencana Tasikmalaya sebesar 25 juta rupiah. Ckckck…”
“Apaan sih Ki, lo dari tadi bergumam wow, uh, ups…ada berita apaan yang tumben-tumbenan bisa bikin lo mau baca?” Gadis mendongak dari bangkunya duduk, “Biasanya pagi-pagi gini lo kan udah sibuk bebenah dandanan…”
“Idiiih nuduh bener sih Dis. Emang gue kan hobi baca. Apalagi baca berita infotainment model ginian.”
“Iya deh… tapi jangan lo kunyah sendiri dong. Pake komentar wah, uh, ups, de-es-be yang bikin gue penasaran. Band jalanan apaan?”
“Itu loh Dis, kelompok band baru, yang lagi heboh… Misterious Band.”
“Wah, itu band kesayangan gue Ki. Mana coba gue baca…” Gadis mendadak sontak berdiri dan menghampiri Saski yang semakin sibuk menelusuri kalimat demi kalimat berita yang tertulis pada halaman depan.
MISTERIOUS BAND KEMBALI BIKIN HEBOH!!! Begitu judul berita yang pertama dilihat Gadis. Judul yang ditulis dalam huruf balok capital yang mencolok mata, pun bagi mereka yang berkaca mata tebal macam Pak Jajang, guru kimia di kelas 11.
“Misterius band kembali bikin ulah. Tapi ulah yang mereka buat sungguh positip dan menggugah inpirasi kaum muda di bumi Indonesia tercinta ini. Apa pasal? Band yang keseluruhan personilnya bercadar seperti pasukan ninja ini mengadakan pertunjukkan amal di jalan-jalan untuk mengumpulkan dana bagi korban bencana alam Tasikmalaya yang terjadi pekan kemarin. Dalam waktu yang cukup singkat, Cuma 5 hari ngamen di jalanan beberapa tempat pusat keramaian, mereka berhasil mengumpulkan dana sebesar 25 juta rupiah. Angka yang sungguh pantastic untuk ukuran sebuah band jalanan. Ruarrr biasa…” Gadis membaca berita itu dengan volume suara cukup keras. Terbukti berpasang mata menatapnya penuh antusias. Bahkan beberapa di antaranya ikut berkerumun mengitari Koran yang berukuran hanya cukup untuk dikelilingi 3-4 orang saja.
“Misterius Band ya? Wah bener tuh, gue kemaren ikut nonton pertunjukkan mereka. Asik loh musiknya. Suaranya enak didenger. Yah walaupun lagu yang mereka nyanyiin lagu penyanyi-penyanyi lain… tapi gue suka banget. Suara vokalisnya itu loh. Gimanaaaa gitu ya! Enak, merdu… kaya ngandung daya magnet yang bikin orang jadi hanyut. Apalagi kalo udah nyanyiin lagu mellow. Wah…” Dani si pembual nomor wahid di kelas berkomentar penuh semangat. Semakin menambah pesona aura kelompok Misterius Band, yang memang akhir-akhir ini sering dibicarakan tidak hanya oleh penggemar music kawula muda, tapi hampir oleh seluruh level tingkatan manusia yang menghuni kota Cirebon.
“Betul-betul-betul…kalo gue mah udah ngeliat show mereka dari jaman mereka masih ngamen di kereta dan di mal-mal. Emang oke tampilan dan suaranya. Gue sampe gimana… gitu ya. Yah kurang lebih samalah seperti yang dirasa si Dani, ya nggak Dan?” Pino, si new Upin-Ipin SMA Samudra Kehidupan urun pendapat juga.
“Gue sepakat sama elo pada…” Sambung Fhani si burung merak kelas 11-IPA1. “Mereka perfect untuk ukuran grup band jalanan. Cuma yang gue heran, personilnya itu kok pake cadar semua ya… padahal, kaloband pada umumnya, yah katakanlah selebritis gitu, ingin sosok dan tampangnya dikenal para penggemar, biar kesohor. Kan enak jadi orang terkenal. Tapi mereka malah menutupi identitas diri. Kenapa ya?”
“Iya juga. Udah gitu, setahu gue, mereka ngamen untuk tujuan amal. Panti asuhan, bakti tuna netra, peduli oma-opa, dan terakhir bencana alam. Aneh…Gue jadi penasaran deh. Siapa nama gitarisnya, drumernya, semuanya… dan vokalisnya. Suaranya itu enak banget deh, pasti dia seorang gadis yang manis…Hmmm” Sambung Pino lagi.
“Loh kok bisa sih?” Si pendiam Jeni angkat bicara, penasaran. “Mestinya kalian Tanya dong saat mereka tampil, apa susahnya?”
“Justru itu uniknya Jen… Lu sih ga pernah liat kalo mereka lagi ngamen. Susah tau… Kalo habis ngamen mereka langsung kabur gitu. Ga mau buka penutup kepala dan muka. Yang keliatan Cuma matanya doang. Makanya mereka dikenal dengan nama Misterius Band. Begitu neng…”
“Wow, ajiib bener! Baru tahu gue kalo ada band yang model begini. Jadi penasaran pengen liat.”
“Itu juga jadi masalah neng. Mereka ngamen suka-suka deh kaya’nya. Ga bisa ditebak kapan maennya. Yah, mungkin Cuma iseng doang. Padahal kalo mereka mau, bisa loh masuk TV. Ga kalah kualitasnya sama band-band yang ada sekarang.”
Obrolan pagi yang semakin hangat dan seru di kelas 11-IPA1 SMA Samudra Kehidupan. Obrolan yang diam-diam disimak betul oleh seorang gadis manis yang duduk di pojok, persis di samping jendela kelas. Kedua tangannya bertumpu pada meja, menopang kedua belah pipi yang sering menampakkan lesung pipit saat tersenyum. Sesekali jarinya memilin ujung jilbabnya yang berwarna putih bersih.
“Hm, berita menarik! Dede, Dave, Anto dan Chepy pasti udah tahu juga berita besar di Koran pagi ini.” Batinnya dalam senyum dikulum. Benar-benar heboh! Spontan diambilnya handphone dari dalam tas. Ditekannya tombol kontak dan sebuah nama, lalu…
“Assalamualaikum, dave… udah baca berita hari ini? Heboh banget Misterious Band loh!” Lara, gadis berlesung pipit itu, membuka obrolan dengan suara separuh berbisik tepat di horn HPnya.
“Kamu udah tahu juga Ra? Nggak nyangka ya… di kelas temen-temen lagi ngebahas misterius Band. Ck…ck…bener juga prediksi kamu Ra.” Terdengar balasan suara dari seberang dengan nada yang antusias.
“He..he..he, terang dong Dav. Siapa dulu. Eit, takabur lagi deh, astaghfirullah…”
“Eh Ra, bisa ngga nanti sore ngumpul? Ada hal penting yang kudu kita diskusikan.” Mendadak Suara Dave terdengar serius. Seperti mengingatkannya tentang sesuatu.
“Jam berapa? Pulang sekolah aku bisa. On time tapinya!”
“Oke, pulang sekolah. Kalo on timenya aku ngga bisa janjiin. Kamu tahu sendiri kan… Anto dan Chepy ada di kelas Kimia. Pak Jajang suka korupsi waktu sampe setengah jam lebih…jadi”
“Wah, sory kalo gitu Dav. Aku ada jadwal liqo bada’ ashar. On time!”
“Bisa ijin dulu ga Ra? Pentiiiing banget! Please…”
“Oke, aku usahain. Lihat aja nanti ya!” Teeeeet… teeeet… Suara bel masuk memutuskan pembicaraan mereka. Lara menekan tombol akhiri di HPnya, masih sempat terdengar suara dari sana,
“Jangan ga datang Ra… Ini masalah kita. Masalah Dede!”
Ups! Lara menegang. Nama itu membuat dadanya berdetak lebih kencang. Ada apa dengan Dede? Terlambat! HP sudah dioff, Pak Bahar sudah ada di depan pintu kelas. Tak ada kesempatan lagi untuk mencari jawaban kenapa. Yang muncul dalam benak adalah bayangan selembar kertas merah muda yang ditemukannya dalam buku catatan Biologinya. Kertas merah muda itu bertuliskan tangan rapi milik seseorang. Seseorang itu bernama Dede. Di sana tertulis sebuah kalimat yang telah membuat dadanya bergetar hebat: Aku sayang kamu Ra…
  