Monday, 5 January 2015

Comeback ...

Deadline                                  

 (catatan kecil di akhir liburan sekolah...)
By : Titin Supriatin, S.P


Tiga  hari lagi waktu yang tersisa!  Kutatap bola mata bundar milik anakku dengan lekat.  Tak ingin kulepas momen sesaat yang sering kulewati atau lebih tepatnya kuhindari.  Karena dengan seringnya menatap bola mata anakku yang tanpa dosa dan berharap banyak ibunya bisa hadir menemani aktivitas kesehariannya, sesering itu pula aku merasa bersalah.  Aku tak punya cukup waktu untuk sekedar menemani dan mengantarnya sampai pintu gerbang sekolah.  Hanya mengantar padahal.  Tidak harus menunggui dan menemaninya sampai waktu kepulangan.  Seperti kebanyakan temannya yang masih duduk di TK A.

Kali ini tidak.  Tak akan kulewatkan. Kutatap lagi bola mata jernihnya sebelum tubuh mungil itu hilang di balik pintu kelas.  Senyum bahagia merekah di bibirnya.  Mengundang genangan air yang tiba-tiba saja memenuhi kelopak mataku.  Duhai Rabb... tak kunyana, bahagia itu sangat sederhana.  Melihat senyum bungsuku yang manis, aku merasa bahagia.  Haru dan sedih bercampur jadi satu.  Maafkan ibu anakku. Mugkin selama ini kau begitu merindukan ibu ada di sampingmu.  Kau tak menuntut setiap waktu untuk terus bersama ibu.  Namun jujur sayang... waktu ibu memang sangat terbatas di pagi hingga sore hari.  Ibu harus bekerja.

Bersyukur, aku berprofesi sebagai guru.  Saat jeda waktu antar semester, ada waktu libur yang bisa aku manfaatkan sebaik-baiknya.  Apalagi   kali ini waktu libur sekolah tempatku mengajar berbeda dengan kebanyakan sekolah lainnya.  Termasuk sekolah anak-anakku.  Aku bisa memanfaatkan sisa waktu 3 hari ini untuk menikmati peranku yang selama ini tak sepenuhnya  mampu aku jalankan.  Bukan karena kesengajaan.  Tapi karena sebuah tuntutan dan konsekuensi pengabdian.

Seperti pagi ini, saat hari pertama anak-anakku mulai bersekolah kembali, aku bisa memandikan mereka, merapikan seragam, menyiapkan sarapan, bekal makan siang mereka, nasehat-nasehat sederhana yang sering dilakukan ibu-ibu yang lainnya di pagi hari.  Dengan kesadaran PENUH.  Tidak dengan separuh hati yang melayang ke sana ke mari.  Semisal memandikan, tapi hatiku berfikir di mana menyimpan seragam kerjaku, kerudung apa yang cocok kukekanakan hari ini, sepatu apa yang akan aku pakai, tugas apa yang harus kusiapkan untuk murid-muridku.  Aaaah... aku ada bersama aktivitas anak-anakku, tapi hatiku TIDAK.

Subhanallah. Patut kuulang ribuan kali berkah libur ini.  Aku bisa melepas anak-anakku ke sekolah dengan senyum teduh dan doa yang kubisikkan lembut di telinga mereka.  Kesyahduan indah pagi hari, yang mampu menentramkan hati anak-anakku untuk berangkat dengan ceria dan semangat yang menyala.  Kupandangi kepergian mereka dengan doa yang semoga mampu mengetuk pintu  langit tempat Rabb-ku berada,

“Duhai Allah... yang menciptakan alam semesta raya, hamba titipkan buah hati amanah-MU pagi ini dan pagi-pagi berikutnya.  Tolong jaga mereka ya Rabb... dekat ataupun jauh dari pandangan mata ini.  Jauhkan dari mara bahaya dan dari mereka yang aniaya.  Hamba menyayangi mereka, dengan segala keterbatasan ini.  Engkaulah sebaik-baik pelindung... “

Tak berlebihan jika aku ungkapan di sini, betapa aku ingin waktu yang tersisa mampu membayar hutang waktu yang seharusnya dimiliki anak-anakku.  Belajar di malam hari, mengulang pelajaran yang belum mereka pahami dengan SABAR.  Karena jujur, sering waktu yang kubayar di saat menemani mereka belajar atau bermain, adalah waktu sisa yang ada hari itu.  Dengan bumbu letih, cape, penat, dan emosi yang terbawa dari tempat kerja.  Kadang pekerjaan sekolah dan masalah masih belum sepenuhnya lepas dari pikiranku.  Hingga tak jarang anak-anakku tak terlalu bersemangat untuk mengikuti petunjuk ibunya saat mengulang pelajaran atau mengerjakan PR.  Padahal ibunya sangat berSEMANGAT untuk menuntaskan aktivitas belajar malam hari itu.  Agar segera bisa beristirahat.  Yang lebih mencemaskan, semangat yang dimaksud kadang adalah semangat penuh EMOSI (karena sudah penat) saat mengajari anak-anak. Hilang kesabaran.  Padahal saat mengajari murid-murid di sekolah, bisa begitu lembut dan sabar ruarrr biasa!
 Kesibukanku mengajar dampaknya memang tak sederhana. Telah cukup banyak peristiwa yang menjadi catatan buatku.  Bungsuku yang sering dan berani protes secara langsung berkata seperti ini, “Ibu... Ara jarang deh dianter ibu ke sekolah atau ngaji.  Temen-temen Ara mah dianter ibunya...”  Atau lain kesempatan, “Ibu... Ara mau lomba menari besok.  Ibu lihat Ara ya...”  Permintaan yang teramat sederhana.  Mengantar. Melihat.  Tak meminta barang atau mainan mahal.  Tapi aku tak sanggup memenuhinya.  Astaghfirullah...

Anak ketigaku juga sering mengeluh.  “Ibu, aku malu jalan-jalan tak ditemani ibu.  Semua ibu temanku ikut karya wisata sekolah.  Aku sama siapa?”  Atau lain peristiwa saat aku telat menjemputnya pulang sekolah, “Ibu, kok lama banget  jemput aku... aku kan sedih teman-temanku sudah pulang semua”

Anak keduaku, melakukan protes dengan gerakan tutup mulut.  Susah mengungkapkan apa yang diinginkannya.  Atau lebih tepatnya malas mungkin.  Karena beberapa keinginannya tak bisa aku penuhi.

Dan protes yang sempat membuatku teramat syok adalah, saat kutemukan catatan kecil yang ditempel sulungku di dinding kamarnya.  Bunyinya seperti ini, “Ibuku memang handal mendidik murid-muridnya, tapi tidak untuk anaknya...”

Deg.  Jantung ini serasa berhenti berdetak.  Sakit.  Sakitnya tuh bukan hanya di sini (di hati maksudnya).  Tapi di hampir seluruh persendian tubuh.  Lemas rasanya diprotes si sulung yang sudah remaja dengan diam-diam. Tak ada cukup waktu kah untuk mereka mengungkapkan perasaan dan keinginan mereka.  Padahal aku merasa sudah memberikan cukup waktu dan kesempatan untuk mereka bicara.  Astaghfirullah.

Tinggal 3 hari lagi!!!  Aku harus bergegas dan menciptakan moment yang tak akan pernah bisa dilupakan anak-anakku. Sederet rencana untuk 3 hari ke depan sudah kususun rapi.  Kucatat apa saja yang akan aku lakukan untuk menemani dan hadirkan hati bersama mereka. Saat tekun menulis catatan-catatan kecilku, tiba-tiba....  Kling.  Nada pengingat di ponselku berbunyi.  Sebuah pesan masuk.

“Assalamualaikum  Bu Titin.  Aku kangen ibu deh.  Sebentar lagi aku sidang Bu.  Doain ya Bu...”

Subhanallah.... dari Fida Thahirah, murid kelasku belasan tahun lalu.  Saat ini tengah menyelesaikan tahun terakhirnya di Fakultas kedokteran UGM.  Masih menyempatkan diri berkirim pesan.  Walau bertahun tlah lewat, komunikasi kami masih terjaga.  Menghadirkan dimensi waktu dan tempat yang tak berbatas.

Air mataku menitik.  Rasa haru menyeruak ke permukaan.  Terbayang masa kebersamaan kami dulu.  Belajar membaca, menulis, berhitung.  Tertawa, sedih, marah, jengkel, bercerita dan bermain bersama.  Ah, anakku... pastinya ibu akan mendoakanmu.  Sebagaimana janji bu guru pada kalian dulu.  Agar kalian, murid-murid ibu, bisa menjadi orang-orang berguna untuk masyarakat.  Menjadi manusia-manusia yang jauh lebih hebat dari bu guru.

Sebuah dilema.  Antara pekerjaan dan tugas sebagai seorang ibu sekaligus guru.  Tak mungkin kulepas kedua peran itu untuk saat ini.  Aku masih diberikan Allah waktu dan kesempatan untuk berkarya.  Berbagi ilmu, empati, kasih sayang, keberadaan diri.  Di hadapan anak-anak dan murid-murid sekolahku.  Dunia yang tak sanggup aku tinggalkan.  Sungguh, menjadi seorang pendidik adalah cita-cita yang tak kan pernah mati.  Walau mungkin, aku tak sepenuhnya mampu menjalankan amanah untuk selalu bersama anak-anakku di rumah .  Karena aku yakin, Allah berikan tangan-NYA yang Maha Kuat untuk menjaga anak-anakku.  Hingga mereka tumbuh dan mandiri dibanding teman-teman yang lainnya.  Semoga mereka memahami peran ibunya yang tak sederhana.  Mereka pun rela untuk berbagi perhatian dan kasih sayang ibunya dengan anak-anak lain.  Sebagaimana, beberapa kali aku mengatakan dan berpesan pada mereka,

“Anak-anakku, mohon maafkan ibu.  Semoga keikhlasan ibu mendidik dan mengajar murid-murid di sekolah.  Melayani telpon, sms atau kunjungan orang tua  mereka yang menyita waktu kebersamaan kita, berbalik menjadi amalan dan pahala yang terus mengalir dan memberkahi kehidupan kita.  Kalian semua akan jauh lebih mandiri, sabar, cerdas dan mampu menghadapi masalah dengan tenang.  Ibu yakini itu.  Allah akan senantiasa bersama kita....”
Kututup catatan kecil hari ini dengan sebuah janji.  Janji sederhana di tahun baru.  Tahun 2015.  Aku ingin membuat sebuah resolusi baru dalam hidupku.  Memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk anak-anak dan muridku.  Kalaulah aku tahu deadline liburku tinggal 3 hari ini, namun aku tak pernah tahu, kapan Allah tetapkan waktu untukku hidup di dunia ini.  Hitungan detikkah, menitkah, jamkah, bulan atau tahun?  Aku tak tahu kapan deadline hidupku.  Yang ingin kulakukan adalah membuat anak-anak dan muridku tahu, bahwa aku akan bersungguh-sungguh menjadi ibu dan guru sebagaimana yang mereka harapkan.  Dengan segala keterbatan yang ada padaku.  Wallahu alam bissawab.

(Karawang, 5 Januari 2015.  Untuk anak-anakku yang hebat : Teh Fida Amatullah, a Abdullah Azzam, a Abdullah Miqdad dan Zhafira Zara Amatullah...terima kasih sudah mau mengerti dan berbagi waktu untuk murid-murid ibu...)

Tuesday, 11 December 2012

sekedar untuk direnungkan


Generasi Gangnam Style…
(Bunda Zara, orang tua murid SMAIT Thariq Bin Ziyad)

“Teteh… tolong bantu Ibu dong…” Panggilku pada si sulung dengan suara separuh berteriak.  Ini panggilan yang ketiga dan masih belum ada jawaban maupun reaksi dari yang dipanggil.  Herggg… ngapain sih  tuh anak?  Ibunya sedang repot malah enak-enakkan di kamar. Dengan ‘tanduk’ yang sudah mulai numbuh di kepala dan gigi yang mulai ‘bertaring’  aku terpaksa menyibak tirai kamar.  Oalaaa… si teteh sedang asik baca buku.  Telinganya tersumpal earphone.  Kepalanya ikut bergoyang.  Pasti lagi asik dengerin music deh!  Pantas saja tidak menyahut panggilanku.
          Akhirnya aku dan suami memutuskan untuk membuat aturan buat si sulung yaitu tidak diperkenankan mendengarkan music lewat earphone.  Dua alasan utamanya adalah supaya kami tahu music atau apa saja yang anak kami dengar dan kalau dipanggil dia bersegera menyahut.  Untunglah anakku patuh dengan aturan itu, sehingga kami bisa memantau apa saja yang dia dengar.  Masalah berikutnya adalah, giliran kami yang geleng-geleng kepala.  Bukan karena ikut menikmati alunan music yang didengarkan anakku, Namun karena merasa prihatin dengan selera dia yang sangat jauh dari yang kami harapkan.
          Lucu saja rasanya!  Satu sisi dia cukup rajin membaca, menghafal dan mengulang hafalan Al Qur’annya.  Namun di sisi yang lain, hobby barunya pada music, seperti gambaran langit dan bumi.  Karena music yang disukainya bukan sejenis nasyid seperti kebanyakan para santri atau siswa sekolah Islam.  Anakku malah penyuka berat penyanyi dan musisi dari negeri Korea.  Sederet lagu dari penyanyi dan grup negeri yang sebagian besar penduduknya  bermata sipit itu dikoleksinya dengan hampir lengkap, semisal SUJU, Arashi, Taecyon, UKiss, 2 NE1, 4 Minutes, Big Bang, BEAST, SEAMO, Shine, dan masih banyak lagi yang lainnya.  Terakhir SPY yang meledak lewat  Gangnam Style nya.
          Prihatin dan miris melihat anakku, yang notabene bisa mewakili generasi muda negeri, yang dalam keseharian insya Allah beres dan tak ada masalah, ternyata lebih menyukai seni dan lagu-lagu orang luar dibanding seni dan lagu dari negeri sendiri.  Even Nasyid gitu loh!  Padahal kalau dibandingkan dari beberapa aspek, rasanya kok ya masih lebih baikan seni dan lagu negeri kita.  Sebutlah music dangdut dengan raja dangdutnya yang terkenal, Bang Haji Rhoma Irama, music pop dengan sederet penyanyi dan grup band nya yang sudah kondang sampai negeri seberang, jazz, rapp dan jenis music modern lainnya. Suara dan aransemen lagunya cukup enak didengar kok…
          Berbagi rasa prihatin, aku mencoba curhat tanpa sengaja dengan orang tua yang mempunyai anak seumuran sulungku. Bersekolah di boarding pula.  Jawabannya membuatku sedikit syok.  Ternyata lagu-lagu Korea memang sedang trend di kalangan anak remaja sekarang yang tentu saja digemari juga oleh  anak temanku ini.  Bahkan tidak hanya music dan lagunya saja, drama dan sinetronnya pun sudah menjadi semacam “Virus” tersendiri di kalangan remaja dan wanita Indonesia.  WOW!!! So… Aku harus bilang “Amboiiii” gitu???
          Terlepas dari rasa prihatin, sebagai orang tua tentu kita tidak bisa tinggal diam menghadapi persoalan yang bukan remeh temeh ini.  Tiwasgas adalah hal paling penting untuk menjaga jangan sampai buah hati kita terbawa jauh arus “globalisasi”.  Namun bukan berarti kita “streng” juga melarang mereka mendengarkan music kesukaannya.  Bermain tarik ulur sebagaimana memainkan layang-layang adalah salah satu cara.  Kita harus tahu, kapan bisa mengulur dan kapan harus menarik tali kendali pada anak-anak kita.  Asalkan kegemaran ini tidak sampai mengganggu atau merusak pribadi dan tugas utama yang lain.  Berilah mereka kelonggaran.  Jangan sampai mereka akhirnya menyembunyikan hal-hal berbahaya di belakang kita.  Karena biar bagaimana pun, music masih jauh lebih baik dibanding pergaulan bebas maupun narkoba.
“Tenang Bu… biar aku suka music Korea dan segala hal tentangnya, aku masih bisa control diri kok…”  Jawaban  sulungku yang diucapkan dengan mantap itu membuatku lega.  Alhamdulillah… bisikku.  @
Satu pagi, usai berbaris di depan kelas, murid kecilku Rizki, berjalan menuju tempat duduknya.  Mulutnya bersenandung sambil bergoyang  menirukan gerakan yang sedang trend itu… U uuh.. oppa gangnam style…Oppa gangnam style!!!
Terpaksa kali ini aku harus bilang  WOW lagi !!! Ternyata PR ku masih belum tuntas!!!  (Bekasi, 10 Desember 2012)

Wednesday, 21 November 2012

Untuk Para Suami...


Kau Ingin Tahu Jawabanku?
(Sepenggal episode tentang POLYGAMI)

      “Mengapa ayah ingin menikah lagi?  Tolong jawab, apa alasannya?”  Tanyaku dengan nada tersendat sesak di dada.
      “Uhm, apa ya… bingung juga kalau ditantang pertanyaan seperti ini...”
      “Tidak usah bingung.  Ibu bukan sedang menantang atau membuat quis berhadiah.  Cuma meminta kejujuran   Tapi tolong cari alasan yang paling tepat.  Kenapa jika pernikahan kita berjalan lancar dan tak ada masalah syar’i apa pun, muncul niatan untuk mencari wanita lain?”
      “Uhm…Ya… ingin menguji kesabaran ibu saja!” Jawab suamiku spontan setelah merenung beberapa jenak.
      Sret!  Serasa ada sebilah belati paling tajam yang menusuk dadaku.  Perih.  Menembus batas raga.  Tepat di jantung jiwa.  Bahkan kalau aku tak malu untuk menangis, rasanya saat itu juga air mataku tumpah berderai-derai.  Tapi eits… sabar!  Tahaaaan!  Baru mendengar ungkapan jujur suami bahwa ia ingin menikah lagi saja, kau sudah nangis bombai!  Lebay ah!
      Tapi memang agak keterlaluan juga sih jawaban itu.  Menguji kesabaran?  Oh, God!  Jika saja rentetan peristiwa dalam rumah tangga bisa dicatat oleh mesin pencatat kesabaran, entah sudah ratusan bahkan mungkin ribuan sabar yang telah digelar dalam rangka menghadapi setiap permasalahan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga kita.  Kau ingin tahu rinciannya?
      Detik pertama memasuki hari-hari pernikahan. Kau pastinya memahami, betapa aku harus banyak menata hati menjadi seorang istri dari laki-laki yang hanya 3 kali bertemu sebelum kita menikah hingga belum banyak yang aku tahu tentangmu, betapa aku banyak mengucap “oooh”, menyaksikan beberapa perbedaan perilaku kecil yang tak kusukai.  Hal-hal yang sederhana sebetulnya.  Namun andai tak bisa mulut ini bersabar untuk mengomentari setiap ketaknyamanan yang kurasa, tentu akan terjadi perdebatan walau ringan.  Mungkin, kau pun mengalami hal yang sama seperti apa yang aku alami. Hingga akhirnya, tindakan terbaik yang kuambil adalah menyimpan “oooh” itu cukup dalam sebuah lemari di sudut hatiku.
      Hari-hari berlalu. Detik mengeja menit, jam, hari, pekan, lalu bulan.  Memasuki bulan ke 5 pernikahan, betapa sensitifnya perasaanku saat mulai mengandung anak pertama kita.  Rasa mual, tak nyaman, selalu ingin diperhatikan dan dinomorsatukan, namun sering yang kudapati adalah ketak mahfumanmu akan hal ini.  Karena kau masih harus bekerja dan kuliah pada malam harinya.  Aku tak tega untuk menggugat atau menuntutmu agar kau lebih memperhatikanku.  Hingga kemudian, aku memutuskan untuk menyimpan kesedihan ini dalam tumpukan lemari kesabaranku.  Dan itu hampir selalu berulang pada kehamilan berikutnya.
      Pun saat anak-anak kita lahir dan tumbuh.  Banyak moment indah yang seharusnya kau lewati bersama kami.  Saat aku harus kecewa, karena kau lebih disibukkan dengan “dunia”mu.  Sementara anak-anak ingin kau memperhatikan dan memanjakan mereka.  Aku bisa rasakan itu dari tatapan dan perilaku mereka.  Karena ada bagian dari tubuh mereka yang berasal dariku, hingga rasa itu ikut membuatku perih.  Aku berharap kau pun bisa merasakan itu.  Sayang sekali, hanya sesekali kau penuhi harapan mereka tentang kehangatan.  Walau itu tak cukup, aku masih syukuri kasih sayang dan perhatian itu.  Selebihnya aku simpan kembali dalam lemari kesabaranku.  Karena ternyata di dunia luar sana masih banyak yang lebih menderita dibandingkan aku dan anak-anak.
      Belum lagi rentetan masalah yang datang mewarnai hari demi hari hingga usia pernikahan kita memasuki “sweet seventeen”.  Bukan usia yang muda untuk ukuran sebuah pernikahan.  Pertengkaran kecil maupun besar.  Andai bukan karena masih luasnya tempat untuk menyimpan kata sabar, tentu kita sudah tak bersama sedari dulu.  Namun kenapa, kau masih harus menguji kesabaran itu dengan sebuah keinginan yang mungkin akan sangat melukai perasaanku.  Yang mungkin akan bisa menghancurkan Kristal-kristal sabar yang selalu berusaha kujaga dengan segenap kemampuanku.  Karena kalaupun kau memaksaku untuk bisa menerima keinginanmu “yang satu itu” dengan alasan aku wanita yang sabar, aku tak akan pernah bisa menjawab dan mengerti perasaanku sendiri, mengapa setiap kau berbicara tentang wanita lain aku merasa sakit!  

 (Bekasi, 18 November 2012, kado kecil untuk suami dan ayah anak-anakku di hari 17 st anniversary pernikahan kami: untuk dijadikan sebuah renungan, bahwa menjaga pernikahan bukan hanya sebatas memelihara kesabaran, namun saling memahami dan empati pada perasaan masing-masing.  Untuk kemudian memandu langkah kita, mengawal takdir yang sudah ditetapkan Sang Pencipta kehidupan  dengan suka atau pun terpaksa :))
     

Tuesday, 23 October 2012


Akulah Penjagamu…
Writted by : Titin Supriatin, SP
       Istirahat siang itu agak tak biasa.  Beberapa teman guru di ruang kantor sedang seru membicarakan sebuah kasus siswa.  Sebuah nama terdengar jelas di telingaku.  Hei, itu kan nama murid kelasku dulu?  Muridku yang terkenal sering memukul atau marah tak terkendali di kelas.  Perilaku apalagi yang  dia perbuat?
       “Dia marah besar.  Teman-teman yang ada di sekelilingnya diamuk.  Ada yang kena tendangannya, pukulannya.  Malah dia banting galon di kelas sampai airnya tumpah membanjiri lantai.”  Begitu wali kelasnya mengurai cerita.  Aku tekun menyimak.  Ada kesedihan yang merambati hatiku.  Anakku, ternyata kau masih belum pulih benar dari perilaku burukmu.
       Namanya Riko.  Saat duduk di kelas 1 SD ayahnya meninggal dunia akibat gagal jantung.  Otomatis, dia menjadi yatim kini.  Perilakunya sebenarnya baik, hanya saja saat dia marah atau tersinggung, dia sering tak bisa mengendalikan diri.  Teman-teman sekelas sering jadi korban amarahnya.  Aku jadi teringat bagaimana dulu aku selalu berusaha untuk menjaga agar emosi muridku itu tidak sampai menimbulkan bahaya buat teman sekelasnya.  Menasihatinya, memberi pengertian pada teman-temannya, bahkan sempat menegur keras saat ia tak terkendali.  Namun sesudahnya aku dinginkan kembali hatinya dengan kata-kata yang lembut dan penuh motivasi.
       Aku pun jadi teringat kembali hari itu.  Selasa, tanggal 20 Desember tahun 2011.  Hari terakhir anak-anak masuk sekolah di semester 1.  Sebelum mereka berlibur, kami para guru memberi tugas pada anak-anak untuk membuat sebuah kartu ucapan selamat hari ibu yang akan mereka berikan pada ibu mereka. 
Setelah mereka selesai, aku baca dan periksa terlebih dahulu, seperti apa ungkapan kasih sayang mereka pada ibu masing-masing. Lucu-lucu dan mengharukan.  Ada yang mengatakan, “Mama… aku sayang mama.  Selamat hari Ibu… semoga mama bahagia”  Ada juga yang menulis, “Bunda… aku sayang Bunda karena Allah…” (Aih, mengharukannya). Kalimat yang lain misalnya, “Mom, You are my everything in the world!” (Keren nya!  Pake bahasa Inggris pula).  
Yang lucu dan aneh pun ada.  Semisal, “Selamat hari Ibu Ma… jangan suka marahin aku lagi dooong…”  Haha…  Atau “Mamaku paling baiiiik di dunia.  Aku sayang Mamaku.  Tapi jangan lupa janji beliin PSP ya!”  Aha!  Kalimat yang ujungnya membuat keningku berkerut dan senyumku melebar.  Apalagi sang mama yang bakal menerima kartu itu.  Kubayangkan, pasti senyumnya hanya berbentuk garis bibir sedikit melengkung, kurang dari 5 centi.  Ah, semoga tidak ya Ma…
Sampai pada sebuah kartu sederhana.  Teramat sederhana malah.  Hiasannya biasa saja.  Polos.  Hanya ada sedikit tambahan gambar hati di  sudut kertasnya.  Tulisannya pun seperti sekumpulan huruf yang sedang menari, meliuk ke kanan dan kiri.  Namun kalimat yang dituliskannya mampu membuatku  tertegun dalam haru yang dalam.  Seperti ini untaian kalimatnya…
       “Akulah penjagamu,
       Akulah pelindungmu,
       Akulah pendampingmu,
       Di setiap langkah-langkahmu…
Ibu….”
Kalimat sederhana, yang kutau betul adalah jiplakan dari syair lagu “11 January” nya GIGI.  Bukan karya murni yang dibuat sang creator kartu itu.  Namun syair yang dijiplaknya itu bisa membuat mata orang yang membacanya menjadi berembun karena haru.  Betapa tidak?  Karena dia menuliskannya tidak lama setelah kepergian ayahnya menghadap Illahi untuk selamanya.  Namun, hari ini aku mendapati berita tak nyaman tentangnya yang kembali berlaku kasar dan tak mampu mengendalikan diri.  Ah anakku… pasti ibumu akan sangat sedih mendengar berita tentang perilakumu.
Keprihatinan dan rasa tanggung jawab membawaku padanya beberapa hari kemudian.  Aku ingat bagaimana raut wajahnya saat kunasehati dulu.  Menunduk takjim dan penuh sesal.  Aku selalu katakan padanya, “Buatlah ibumu bahagia dan bangga, buatlah ibumu tersenyum karena kebaikan sikapmu.  Buatlah ibumu yakin bahwa kamu bisa dijadikan tumpuan harapan setelah ayahmu pergi menghadap Illahi.  Buatlah ibumu yakin bahwa kamulah yang akan menjaga dan melipur hatinya saat duka dan sepi.”  
kini, aku ingin menemuinya kembali untuk mengingatkan janji kami dulu.
“Anakku, walaupun bu guru sudah bukan wali kelasmu lagi, tapi bu guru masih akan terus menyayangi dan memperhatikanmu.  Bu guru sedih mendengar perilakumu kembali kasar.”  Kataku padanya.  Tak ada jawaban sepatah pun yang keluar dari bibirnya.  Hanya pandangan mata sedih tergambar jelas dari balik kaca matanya yang berbingkai tebal.  
“Nak, berjanjilah untuk ibumu dan bu guru.  Jangan ulangi lagi tindakan seperti itu.  “Kamu ingat Nak, kamu pernah menulis sebuah kartu untuk ibumu pada hari ibu setahun yang lalu? Kamu tuliskan Akulah penjagamu, akulah pendampingmu, akulah pelindungmu, di setiap langkah-langkahmu, Ibu…”  Sambungku dengan suara bergetar. “Bu guru selalu ingat itu.  Hari ini ibu ingatkan kembali janjimu.  Tolonglah, jangan buat hati ibumu terluka.  Kamu harus bisa membuatnya bangga.  Ibumu pasti sedih jika mendengarmu kembali bersikap kasar pada teman….”
Dia mengangguk.  Kami saling menatap dengan mata berkaca-kaca.  Hatiku bergetar menahan tangis. “Ibu yakin, kamu pasti bisa anakku… ibu akan berdoa untukmu!”  Tak banyak kalimat lain sesudahnya.  Aku hanya memeluk pundaknya hangat. Karena aku yakin, dia tahu betapa aku ingin memeluknya, menunjukkan kasih sayangku sebagai seorang guru, menunjukkan bahwa aku masih peduli padanya.  Aku yakin, sentuhan kasih sayang bisa mewakili ribuan kata yang tak terucap.  Aku yakin, kelembutan bisa mengalahkan kekasaran dan amarah.  Dan aku yakin marah bukanlah solusi terbaik menangani anak-anak bermasalah.  Kasih sayang dan perhatian yang tulus bisa menyentuh hati seseorang untuk bisa mengubah diri dan perilakunya.  Wallahu ‘alam bissawab.  (Bekasi, 22 Oktober 2012 catatan special untuk murid kecilku.)